Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa yang Terjadi Jika Bumi Berhenti Berotasi atau Berputar? Begini Penjelasan Ahli Geologi

Ilustrasi planet bumi - Apa yang terjadi jika bumi berhenti berotasi atau berputar? Begini penjelasan ahli geologi. //FREEPIK/rawpixel.com/ 

Meski pergerakannya tidak dapat dirasakan, planet bumi yang kita pijak terus berotasi atau berputar pada sumbunya.

Rotasi inilah yang menyebabkan pergantian siang dan malam setiap harinya.

Jika seandainya bumi tiba-tiba berhenti berotasi, apa yang akan terjadi?

James Zimbelman yang merupakan ahli geologi senior emeritus dari Smithsonian's National Air and Space Museum Washington, D.C. menjelaskan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi.

"Ini hanyalah eksperimen pikiran. Tidak ada kekuatan alam yang akan menghentikan bumi berputar," kata Zimbelman, dikutip  dari Live Science.

Menurut dia, itulah salah satu alasan mengapa bumi terus berputar sejak terbentuk, dan hal tersebut cukup mengesankan.

Jika rotasi bumi tiba-tiba berhenti, momentum angular (momentum sudut) setiap objek di bumi akan menyobek permukaannya.

Halaman:

Sumber: Live Science

Bumi sendiri melakukan satu putaran penuh pada sumbunya setiap 23 jam 56 menit 4,09053 detik sekali.

Menurut Zimbelman, ini berarti bahwa tanah di daerah khatulistiwa bergerak dengan kecepatan sekitar 1.770 km/jam. Sedangkan, di daerah kutub kecepatan rotasi menurun menjadi nol.

Saat planet ini tiba-tiba berhenti berputar, momentum angular akan membuat udara, air, bebatuan, dsb untuk tetap bergerak dalam kecepatan 1.770 km/jam.

Gerakan tersebut akan menyebabkan robeknya permukaan bumi. Segala pecahan material akan terbang ke bagian atas atmosfer serta ke luar angkasa.

Meski begitu, tidak semua hal akan hilang saat bumi tiba-tiba berhenti berputar.

Zimbelman menjelaskan bahwa pecahan-pecahan yang terlepas dari permukaan akan kembali berputar saat bumi dan sisa-sianya berlanjut mengelilingi matahari (revolusi).

Pada akhirnya, gravitasi planet ini akan menarik kembali pecahan-pecahan tersebut dengan efek yang tidak terduga.

"Dengan mekanika klasik Isaac Newton, kita dapat memahami bahwa fragmen yang terakumulasi dan bergerak lebih dekat akan melepaskan sebagian energi mereka sendiri dan memancarkan panas," kata Zimbelman.

Sebagai gambaran peristiwa tersebut, bayangkan saja meteorit yang melesat melintasi langit.

Fragmen yang ada di ujung atmosfer dan luar angkasa akan ditarik ke permukaan oleh tarikan gravitasi bumi. Saat terjadi tumbukan, pecahan-pecahan itu akan melepaskan energi.

Karena terus dibombardir oleh pecahan-pecahan ini, kerak bumi akan mencair menjadi samudra batuan yang meleleh.

Pada akhirnya, fragmen yang bertabrakan dengan permukaan bumi akan diserap kembali ke laut cair melalui proses yang disebut akresi.

Menurut Zimbelman, transisi yang cepat dan destruktif seperti ini juga akan menguapkan sebagian besar air di permukaan planet.

Selain menguap dan hilang, air juga bisa masuk ke dalam mineral yang baru dipadatkan, misalnya olivin.

Akhirnya, tidak semua fragmen akan diserap kembali melalui akresi.

Beberapa bagian planet juga akan tersapu oleh tarikan gravitasi bulan dan membombardir satelit alami tersebut, sehingga tercipta lebih banyak kawah di permukaannya.